BANDARLAMPUNG – Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal berkeinginan menjadikan daerah sebagai dapur raksasa yang bisa mengolah kekayaannya sendiri.
Dapur raksasa dimaksud, adalah menjadikan Provinsi Lampung sebagai penghasil bahan (produk) jadi untuk daerah lain.
“Kita tidak ingin Provinsi Lampung hanya menjadi daerah penghasil bahan mentah saja,” kata Gubernur, Selasa 18 Agustus 2026.
Dikatakan, selama ini Lampung dikenal sebagai pintu gerbang Sumatera. Namun, bagi Gubernur, predikat itu dirasa belum cukup.
Lampung tak ingin lagi hanya menjadi jalur perlintasan truk-truk pengangkut bahan mentah menuju luar daerah. Mirza ingin Lampung menjadi dapur raksasa yang mengolah kekayaannya sendiri.
“Kita tidak ingin Provinsi Lampung hanya menjadi daerah penghasil bahan mentah,” tegas Rahmat Mirzani Djausal, Selasa (18/8/2026).
Pernyataan sang Gubernur bukan tanpa alasan. Di balik hamparan hijau bumi Ruwa Jurai, tersimpan angka-angka fantastis yang mencengangkan.
Bayangkan saja, produksi pisang Lampung mencapai 2 juta ton dengan nilai ekonomi menembus Rp30 triliun. Padi menyumbang Rp25,48 triliun, sementara ubi kayu atau singkong mencatat angka Rp10,16 triliun.
Sayangnya selama ini sebagian besar komoditas unggulan tersebut keluar dari Lampung dalam bentuk apa adanya.
Padahal, jika diolah menjadi produk turunan melalui hilirisasi, nilai tambahnya bisa berlipat ganda, lapangan kerja baru akan tercipta, dan kesejahteraan 735.894 rumah tangga petani di Lampung akan terdongkrak drastis. (Rls)






